SAMARINDA, FASYA UINSI NEWS,- Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda menggelar kuliah umum bertajuk “From Past to Present: Historical and Contemporary Dynamics of Jewish Capitalism and Islamic Economics”. Acara ini menghadirkan pakar akademisi asal Malaysia, Dr. Ghazali Basri, yang dikenal aktif mengisi forum internasional. Beliau didampingi oleh istrinya, Dr. Noriah Mohamed, sesama akademisi dari Malaysia. Aula Fakultas Syariah. Kamis, (21/5/2026).
Kuliah umum dibuka langsung oleh Aulia Rachman, Lc., M.H., Ketua Jurusan Muamalah Fakultas Syariah, mewakili Dekan Fakultas Syariah Prof. Alfitri, M.Ag., LL.M., Ph.D. Dalam sambutannya, Aulia menyampaikan terima kasih atas kesediaan narasumber hadir di tengah kesibukan, serta berpesan agar peserta menyimak dengan baik materi yang disampaikan demi menambah wawasan dan pemahaman.
Acara kemudian dipandu oleh Muhammad Kholil Muqorrobien, B.A., M.IRKH., Ketua Program Studi Hukum Syariah, hingga selesai.
Pada awal pemaparannya, Dr. Ghazali Basri menjelaskan sejarah bangsa Yahudi. Menurutnya, bangsa Yahudi memiliki ambisi yang sangat kuat dan sering kali tidak peduli dengan cara-cara yang dilarang. Ia menggambarkan bahwa sejarah Yahudi penuh dengan intrik serta strategi demi meraih tujuannya. Sehinggan sudah menjadi bagian dari watak bangsa Yahudi yang hingga kini terlihat dalam konflik di Palestina, di mana mereka menghancurkan tanah Palestina dan berupaya menguasainya.
Selanjutnya, Dr. Ghazali menyoroti dinamika historis dan kontemporer kapitalisme Yahudi serta ekonomi Islam. Ia menjelaskan bahwa sejak abad pertengahan, komunitas Yahudi memainkan peran penting dalam perdagangan lintas benua. Diaspora memaksa mereka membangun jaringan finansial yang kuat, sehingga melahirkan sistem kapitalisme berbasis modal dan investasi.
Menurut Dr. Ghazali, kapitalisme Yahudi berakar pada tradisi diaspora dan jaringan perdagangan global, namun cenderung menimbulkan kesenjangan sosial karena berorientasi pada akumulasi modal. Sebaliknya, ekonomi Islam menekankan prinsip keadilan sosial, zakat, serta larangan riba sebagai fondasi moral. Sistem ini, menurutnya, menawarkan alternatif yang lebih berkeadilan dengan fokus pada kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan.
Dr. Ghazali juga menegaskan bahwa kapitalisme Yahudi dan ekonomi Islam adalah dua sistem dengan akar sejarah berbeda, namun keduanya tetap berpengaruh dalam dinamika ekonomi global saat ini. Ia mengajak umat Islam untuk memperkuat praktik ekonomi syariah agar mampu bersaing sekaligus memberikan solusi atas ketidakadilan kapitalisme.
Para peserta tampak sangat antusias mengikuti kuliah umum. Antusiasme tersebut terlihat dari banyaknya mahasiswa yang aktif bertanya dan memberikan respon selama sesi berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa peserta mampu memahami materi secara lebih mendalam, sehingga kuliah umum ini memberikan manfaat nyata dengan pemahaman yang baik setelah kegiatan berakhir.
(humasfasya*jaw)

